Aku "Seniman" | Random
Baru banget, dengar lagunya Adhitia Sofyan yang Seniman. Buat yang belum tahu dia siapa, dia adalah pengisi soundtrack lagu di film pertama Raditya Dika, Kambing Jantan. Sejak itu, ku putuskan untuk mencintai karyanya tanpa alasan.
Ini benar adanya, tidak dilebih - lebihkan ataupun mengarang bebas. Kenapa ku bilang begini? Karena suka, bahkan cenderung cinta dengan petikan jari yang ia mainkan. Seakan - akan dia bercumbu dengan senar gitar. Membentuk alunan musik, yang tidak bisa kita benci tanpa alasan. Suka. Banget.
Katanya, lagu yang berjudul Seniman ini adalah lagu lama, sekitar 2008 - 2009. Hampir 10 tahun yang lalu, tetapi baru bisa di publish sekarang. Tambahnya, terkadang lagu itu butuh waktu untuk menjadi sesuatu. Belum waktunya jadi, tetapi tetap diingat dalam kepala. Seakan - akan, membiarkan lagu tersebut menemukan arah jalannya sendiri. Klise. Tapi begitu adanya. Terkadang, tidak semua bisa dilakukan saat itu juga, it takes time, and you wouldn't regret it later.
Lirik lagunya ini sebenarnya sederhana, cerita tentang kegelisahan hati, yang di mana, kalau sudah besar nanti, dia hanya ingin menjadi seniman. Tidak perlu belajar matematika, fisika, biologi, dan apa pun itu. Hanya seni. Tetapi, seperti yang kita tahu, ketika jaman orang tua kita, kalau bekerja seniman, mau jadi apa kamu? Belum ada masa depan yang cerah, bahkan cenderung suram. Karena, pada waktu itu, karya seni belum dihargai seperti masa sekarang ini. But, he keeps survive on what his believe. Sekarang, kita bisa tahu siapa Adhitia Sofyan.
Lagu ini pun mengingatkanku akan banyak hal, mulai dari hal yang paling dibenci hingga dicinta. Seperti dulu, aku sangat suka mencintai matematika. Iya, aku tahu itu aneh. Ketika yang lain memutuskan untuk tidak "berteman" dengan matematika, sedangkan aku "merangkul" nya dekat - dekat, seraya membisikkan, "tenang, ada aku di sini." Itu pun yang berlaku sebaliknya, ketika aku tidak memiliki banyak teman untuk berbagi cerita.
Lalu, setelah masuk kelas 3 atau 4, aku lupa detailnya, matematika mulai sedikit ku tinggalkan. Iya, aku berselingkuh dengan dunia sastra. Kalau ditanya alasan jelasnya, entah, aku sendiri belum bisa menjawab hal itu. Bahkan, ketika anak seusiaku waktu itu, masih bermain dengan permainan tradisional, kalau kaya dikit, bisa beli handphone Nokia tua, seri N-Gage. Itu sudah keren banget. Sedangkan aku masih bergelut dengan komputer di rumah, menulis karya sendiri untuk dinikmati sendiri. Ingin ku kasih lihat ke kamu, tetapi komputernya sudah rusak dan entah kemana. Sayang sekali.
Setelah tahun terlewati, masalah datang silih berganti, menulis pun ku mulai lagi dari awal, berusaha mendengarkan masalah yang ada di hati dan pikiran. Bercerita melewati tulisan di blog ini, meskipun belum banyak yang ikut membaca. Tetap menimbulkan perasaan yang tenang dan damai. Ah, aku menikmati hal ini. Sepertinya aku "seniman" dibidang menulis dan matematika. Sepertinya.
Komentar
Posting Komentar