Dilema Berkarya.

Dalam berkarya, pasti ada suka maupun duka. Demen hingga enek. Benci hingga benci sekali. Tapi tidak ada cinta. Iya, tidak ada cinta. Tidak ada cinta dalam yang namanya berkarya. Selalu ingin yang lebih. Tidak percaya? Biar saya jelaskan.

Dalam berkarya, awalnya kita membuat sesuatu karna memang suka, bahkan cinta dengan hal tersebut. Kita melakukannya setiap hari, mulai pagi hingga malam. Mulai perut isi hingga harus diisi lagi. Begitu terus, tanpa ada batasan waktu. Tidak ada tendensi apapun dalam hal ini. Kita hanya berkarya lewat hati.

Setelah berkarya secara telaten, orang mulai ada yang tertarik. Kalau tidak tertarik, setidaknya mereka tahu. Lalu timbullah saran, kritikan, cacian, hingga menjatuhkan. Ini benar adanya, apalagi ketika memasuki era digital, semua orang bisa mengucapkan apapun yang mereka mau, karena tidak bertemu dengan yang bersangkutan. Di posisi ini, ada 2 pilihan. Mau jatuh dan berhenti begitu saja. Atau tetap berkarya, bahkan dibilang kepala batu? Semua tergantung pilihan tiap individu.

Lalu, ketika kita memutuskan untuk berkarya, tentu kita akan meningkatkan kualitas karya kita, entah dalam bentuk apa. Misalnya menulis, gaya bahasa diperbaiki, penjelasan dibuat ringkas dan jelas. Membuat sesuatu sarat makna. Dan masih banyak hal lainnya. Hal ini tujuannya 1, yaitu membuat para pembaca senang. Cinta dalam berkarya, berubah menjadi cinta akan pandangan orang lain.

Dari hal itu, lalu akan bercabang lagi. Menjadi 2 hal. Yang pertama, tetap idealis. Berkarya karena suka, cinta terhadap hal ini. Membuat sesuatu yang lebih, tetapi tidak pernah puas dengan kondisi yang ada sekarang. Selalu mau lebih dan lebih. Kenapa begitu? Karena, dalam berkarya, tidak ada yang namanya "akhirnya kita sampai di tujuan kita." Yang ada adalah, kita selalu meningkatkan standar kualitas kita, lagi dan lagi. Sampai kita merasa cukup dan malas belajar, maka kita akan berhenti berkarya secara otomatis.

Yang kedua, adalah masuk ke sebuah instansi atau perusahaan. Hal ini berarti, para pembuat karya harus membunuh idealisme mereka, bekerja di bawah tuntutan orang, berkembang sesuai maunya tempat kita bekerja. Membosankan. Dan mati tanpa bisa "dikenang".

Untuk sekarang, bagaimana posisiku? Entahlah, tetapi sepertinya masih dalam posisi berkarya karena memang suka, meskipun tidak terlalu menghiraukan pandangan orang lain. Yang jelas, aku berkarya karena memang aku suka, dan sudah seharusnya,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi berakhiran U

Pecel Lele | Puisi

Blog Makanan