Ramadhan Be Like


Akhirnya bisa tulis sesuatu lagi di blog ini, setelah mengalami beberapa insiden, seperti libur lebaran selama beberapa hari belakangan ini. Oh ya, mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, bagi yang merayakan. Bagi yang tidak merayakan, mohon maaf lahir dan batin, semoga kesalahan yang pernah sengaja dan sengaja banget, dimaafkan. Iya, aku minta maaf kalau resek banget jadi orang. Ke depannya akan berusaha aku kurang - kurangi kok. Aku usahakan.

Nah, karena Ramadhan itu sesi yang bisa dibilang maaf - maafan. Terkadang orang menjadi lebih resek daripada sebelumnya. Iya, resek banget. Kebanyakan orang, ketika ramadhan itu selalu pertanyaan yang remeh - temeh. Seperti misalnya, sudah kelas berapa? Nilai di kampus bagaimana? Pacarnya kok ga dibawa? Anaknya sudah berapa? Dan seterus - terusnya. Begitu saja terus. Peduli? Engga, mereka hanya bertanya sekedar biar ada bahasan saja. Sebenarnya mah, ga ada bahan obrolan apa pun. Sekalipun ada yang peduli, mungkin bisa di hitung jari lah. Dikit banget.

Kalau dalam kasusku sedikit beda, tidak banyak pertanyaan sejenis. Mungkin sedikit yang mengganjal hati, seperti "Faisal sekarang kerja di mana?". Oke, kalian mungkin mikir itu ga seberapa, kan cuma tanya pekerjaan di mana, seharusnya pertanyaannya mudah. Memang, itu mudah sekali jawabnya. Tetapi, yang bikin bingung adalah, kenapa pekerjaan? Aku ini sedang berusaha banget lulus loh. Berusaha. Banget. Terus ditanyai kerja di mana, ini hati berasa ada yang tusuk begitu, perlahan tapi pasti, dan anehnya lagi, kenapa aku doang yang ditanyai begitu? Padahal yang lebih tua banyak, pada menganggur pula. Kok aku yang dijadikan korban pertanyaan itu. Hadeh, bikin kepala pusing saja:(

Selain itu, ternyata ada yang lebih berbahaya daripada pertanyaan. Yaitu sebuah ajakan. Iya, sebuah ajakan. Bayangkan, ketika lagi ada acara keluarga besar pada berkumpul untuk bertukar cerita, atau setidaknya berbagi pengalaman tentang apa yang sudah dilakukan. Lalu ada 1 orang kampret yang celetuk, "eh, anaknya nak Didik bentar lagi lulus itu, ga ada yang mau dijodohkan sama dia?" Lalu suasana tawa membahana keluar dari mulut orang - orang. Tetapi, aku ga merasakan itu. Kenapa? Karena yang dimaksud itu aku. Iya, masa aku dijadikan tumbal? Kan tai ya kalau begitu. Hadeh, ga habis pikir aku dengan hal begini. Ingin marah, tapi jarang ketemu. Sekalinya ketemu kok ingin berkata kasar. Maafkan aku ya Allah:(

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi berakhiran U

Pecel Lele | Puisi

Blog Makanan