Selalu Terlihat dan Di Ingat.
Terkadang, kita tidak mendapatkan yang kita inginkan. Seberapa sering kita berdoa, masih belum tentu akan diberi sama Tuhan Yang Maha Esa. Itu faktanya. Hal ini terjadi, ketika ulang tahun tanggal 7 Juni kemarin. Terbukti, yang mengucapkan kurang lebih 20 orang di hari itu. Cukup sepi. Bahkan, lebih sepi dari tahun sebelumnya. Sedih? Tentu. Tidak perlu aku jabarkan di sini secara detail, tetapi aku cuma bisa meringis saja. Beruntung, masih ada yang mengingat bahwa aku pernah dilahirkan.
Setelah kejadian itu. Aku berusaha untuk tidak mengambil hati. Banyak caranya, dan cukup berhasil. Meskipun tidak 100% sembuh, tetapi setidaknya aku masih bisa tertawa lagi bareng anak - anak. Cara yang kulakukan biasanya adalah bekerja. Entah, itu kerja di rumah ataupun kantor. Tetapi lebih efisien kalau di kantor, karena bertemu teman - teman. Setidaknya mendengarkan tawa mereka lebih menyenangkan.
Nah, kebetulan, kemarin, hari jumat. Aku dipanggil ke kantor. Ini kantornya freelance. Jadi, kalau ada panggilan, berarti berangkat ke kantor. Kerjanya cuma ngajarin anak kecil tentang matematika. Untuk persiapan masuk ke salah satu SMP favorit. Ya semacam guru les - lesan begitu lah. Mudah, tetapi menyenangkan.
Mengajar itu sebenarnya melelahkan. Kalau boleh jujur, sangat melelahkan. Terutama kalau muridnya sangat ramai dan buas. Engga, mereka ga gigit. Cuma kelakuannya agak ciprik. Berasa melihat diri sendiri, ketika masih SD. Kelasnya ada 2 jenis, kelas kecil yang berisi murid maksimal 8 orang, dan yang kelas besar sebanyak 25 orang. Bisa bayangin seberapa parahnya? Tenang, selama ini, ekspektasi terkadang tidak berjalan sesuai kenyataan.
Hal yang paling melelahkan adalah selesai mengajar. Berasa setengah diri kita tertinggal di kelas. Meskipun, terkadang mereka tidak mendengarkan kalau lagi dijelaskan. Maklum, tipikal anak yang pintar, biasanya sedikit malas mendengarkan gurunya mengajar. Sama seperti aku dulu. Hehe. Tetapi, perasaan itu selalu diikuti dengan perasaan bersalah. Entah. Karena merasa kurang, atau apa. Selalu ada rasa penyesalan dalam diri.
Meskipun begitu, perlu diakui bahwa ternyata, terlalu banyak berekspektasi memang tidak baik untuk kesehatan. Apa pun itu. Hal ini pun berlaku di sini, di dunia mengajar. Ketika aku merasa tidak memberikan hal yang sepenuhnya. Ternyata ada beberapa anak yang cukup memperhatikan. Bahkan peduli. Iya, peduli sama aku. Mereka mencariku lewat pengajar lainnya. Mereka bertanya keberadaanku. Entah kenapa, rasanya bahagia sekali. Ketika ada seseorang yang mencari. Mencari bukan karena ada masalah, tetapi karena mereka memang ingin bertemu. Ah, aku rindu rasanya seperti ini. Terima kasih Tuhan.
Komentar
Posting Komentar